Sabtu, 26 Januari 2013

Pemilu Capres 2014 : Perang Bintang



Pemilihan Presiden (Pilpres) masih lama, namun gemanya sudah mulai terdengar. Genderang pun sudah ditabuh, sejumlah nama pun sudah mulai diusung. Para pengamat mulai menganalisis dan tak ingin ketinggalan, para pinisepuh pun mulai mengasah ketajaman dan keakurasian ramalan Joyoboyo, yang oleh sebagian kecil kalangan masyarakat etnis Jawa diyakini memiliki akurasi mencapai 80 persen.

Jika Pilpres 2014 dikaitkan-kaitkan dengan mitos Notonegoro yang ditafsirkan sebagai nama akhir pemimpin Indonesia. NO (Soekarno), To (Soeharto), Ne; bukan orang Jawa (Habibie), Goro; ribut-ribut (terbukti dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid yang kemudian digantikan Megawati). Terus balik lagi ke No (Susilo Bambang Yudhoyono).

Jika mengikuti ramalan Joyoboyo, bahwa no-to-ne-go-ro, maka nama yang muncul berakhir dengan -no-. Sukarno, -to- Soeharto, kemudian kembali ke -no- di saat Megawati menjadi Presiden sebab namanya Megawati Soekarno, lalu SBY yang namanya juga akhirnya -no-. Maka bisa ditaksirkan masih akan lama lagi muncul pemimpin yang diramalkan oleh Joyoboyo sebagai Satria Piningit yang adil dan memakmurkan rakyat. Sebab pemimpin Indonesia yang memimpin alih-alih balik kembali ke nama yang akhirnya -no- dan -to-.

Jika tahun 2014 nanti muncul nama calon yang berakhiran -to- bisa diramalkan dia akan menjadi pemimpin RI selanjutnya. To yang ditafsirkan dalam ramalan Joyoboyo tersebut boleh jadi Prabowo Subianto-Wiranto-Joko Suyanto-atau Endriartono Sutarto, yang entah secara kebetulan atau tidak, keempat nama ini sudah dipromosikan dan bakal bersaing. Kempat nama yang didengungkan sebagai tafsir Joyoboyo tersebut adalah para mantan jenderal.

Ini menarik, karena tiga jenderal yakni Prabowo Subianto, Wiranto dan Endriartono Sutarto sudah menyatakan diri maju dalam Pilpres 2014. Sementara To yang satu lagi, yakni Joko Suyanto masih malu-malu mengakuinya. Menariknya lagi, Survei LSI sempat merilis Prabowo Subianto memperoleh 67%, suara responden yang dibuat LSI, kemudian Endriartono Sutarto 63%, Djoko Suyanto 63%, Wiranto 63%. Pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya berpendapat, nama-nama seperti Prabowo Subianto, Wiranto dan Endriartono Sutarto memiliki karakter kepemimpinan yang berbeda. Meski begitu diyakini hanya Endriartono yang dinilai memiliki track record lebih baik di antara Prabowo dan Wiranto.

"Memang Prabowo dan Wiranto tidak lepas dari kasus-kasus masa lalu. Kalau ditelaah, karir milter Endriartono tidak terlalu kontroversial," katanya.

Meski diyakini memiliki track record lebih baik, Endriartono belum bisa menyaingi kepopuleran Prabowo dan Wiranto. Endriartono masih jauh di bawah kepopuleran Prabowo dan Wiranto, sekalipun dia kini berada di bawah bendera Partai NasDem.

"Problemnya pengenalan publik terhadap Endriartono masih rendah sehingga popularitasnya juga rendah," tambahnya.

Potensi perang bintang di Pilpres 2014 memang sangat besar. Hal ini diakui juga oleh Direktur Eksekutif lembaga survei Indo Barometer, M Qodari. Perang bintang itu tak hanya Wiranto, Prabowo tapi ada dua jenderal lain, yakni Endriartono Sutarto dan Djoko Suyanto bakal menjadi pesaing hebat. Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto yang saat ini menjabat sebagai Menko Polhukam memang kerap disebut-sebut masuk bursa capres 2014.

Meski Djoko yang pernah menjabat sebagai Panglima TNI ini berulangkali menyatakan tak berambisi nyapres di 2014. Sementara Endriartono Sutarto baru saja bergabung dengan Partai NasDem. Memang Endriartono belum dipastikan maju di Pilpres 2014. Namun kehadiran mantan Panglima TNI ini ke NasDem menambah hangatnya suasana politik menuju Pemilu 2014. "Pertama, karena Endriartono adalah figur eks Panglima TNI yang bersih, cerdas dan berwibawa diharapkan menjadi vote getter dan kalau popularitasnya tinggi bisa didorong jadi capres atau cawapres dari Nasdem," katanya. Meski masih sangat kecil, namun peluang jenderal bintang empat yang akrab disapa Pak Tarto ini menuju Pilpres 2014 ini masih ada. Apalagi jika pencapresan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto tak bisa dibendung.

"Peluang Tarto didorong Nasdem jadi capres besar jika Prabowo betul-betul maju karena akan muncul pemikiran: lawan jenderal ya dengan jenderal juga," katanya.

Mayoritas publik mengasosiasikan sikap tegas tokoh dengan latar belakang TNI. Dengan fakta itu, maka menunjukkan bahwa dua orang mantan jenderal, yakni Prabowo dan Wiranto adalah sosok yang lebih tegas dari nama-nama capres lain yang beredar. Dengan demikian wajar jika keduanya menjadi pilihan utama publik menghadapi Pilpres 2014.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S. Bakry pernah menyebutkan indikator persepsi publik terhadap sosok capres yang tegas identik dengan tokoh berlatar belakang TNI, memperlihatkan bahwa mayoritas publik masih mengharapkan Presiden RI 2014-2019 adalah figur berlatar belakang TNI. Umar menambahkan, saat LSN menanyakan kepada responden beberapa kombinasi capres dan cawapres, hasilnya kombinasi pasangan capres berlatar belakang TNI dan cawapresnya orang sipil, lebih banyak disukai dan disetujui sebanyak 73,5 persen responden, sedangkan yang mengaku setuju terhadap capres sipil dan cawapresnya berlatar belakang TNI hanya 64,7 persen.
Lalu di luar Prabowo dan Wiranto, apakah ada tokoh berlatar belakang TNI lainnya yang berpeluang meramaikan kontestasi dalam Pilpres 2014? Kata Umar, peluang itu kecil.

"Saat kami sebutkan kepada responden sejumlah nama jenderal kemudian kami tanyakan, siapa di antara mereka yang paling layak menjadi presiden menggantikan SBY? Hanya nama Prabowo dan Wiranto yang mendominasi. Sebanyak 29,9 persen responden menyebut nama Prabowo dan 29,1 persen memilih Wiranto," ungkapnya.

Dari hasil itu, sangat mungkin terjadi tokoh berlatar belakang TNI yang dipersepsikan publik memiliki sikap tegas, akan dominan dalam Pilpres 2014 mendatang. Bahkan peluang untuk terjadinya “perang bintang” dalam final atau putaran kedua Pilpres 2014 cukup terbuka. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar