Jumat, 25 Januari 2013

Perkembangan Bahasa Jawa


                                             SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA JAWA
                                                  DAN TANTANGANNYA DI MASA KINI







                                                                 OLEH : HERU WIRANTO
                                                                       NIM : 121312059

                                                         UNIVERSITAS WIDYA MATARAM
                                                   FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
                                            PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
                                                                          TAHUN 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita masih diberikan kesehatan, kesempatan dan kekuatan sehingga kami mampu untuk menyelesaikan penulisan Makalah yang berjudul Sejarah Perkembangan Bahasa Jawa Dan Tantangannya di Masa Kini dalam mata kuliah  Filsafat Budaya Mataram .
Makalah  ini juga merupakan tugas   Ujian Mid Semester. Karena keterbatasan literatur maka masih banyak kekurangan-kekurangan dalam penyusunan makalah ini sehingga masukan dari Dosen Pembimbing  sangat kami harapkan untuk peningkatan wawasan intelektual. Sengaja kami mengambil judul diatas karena ketertarikan kami atas Sejarah Perkembangan Bahasa Jawa khusunya pada era Dinasti Mataram, disamping hal tersebut kami juga terusik dan prihatin atas perkembangan Bahasa Jawa pada masa sekarang.
Sekarang banyak generasi muda yang sudah tidak menghargai Bahasa Jawa, seolah jika mereka masih menggunakan Bahasa Jawa sudah dianggap kuno atau Jadul ( jaman dulu ). Padahal kalau ditelusuri Bahasa Jawa bukan sekedar bahasa verbal pergaulan, tetapi didalamnya banyak mengandung falsafah-falsafah, ajaran-ajaran budi luhur serta adab yang sangat  luhur. Semoga dengan makalah ini dapat menumbuhkan kembali semangat untuk nguri-uri atau melestarikan Bahasa Jawa terutama bagi pembaca makalah ini khusunya bagi kami.


Yogyakarta, 2 November 2012
Heru Wiranto



BAB I
PENDAHULUAN

Dalam sejarah  Mataram kita mencatat Sultan Agung ( 1613-1646 ) sebagai sultan terbesar dari kerajaan itu. Pada masanya kita menyaksikan puncak kejayaan kerajaan Mataram yang terlihat dari segi politik, dengan luas wilayah dan besarnya kekuasaan raja. Dalam Kebudayaan dengan kemampuan mengembangkan perpaduan antara kebudayaan Jawa dan kebudayaan luar, ini tercermin dari perkembangan seni tari Jawa, serta berkembangnya bahasa jawa. Perkembangan bahasa jawa dengan tatarannya ngoko-krama ( tingkat rendah atau kasar , tingkat tinggi  atau halus ) juga digunakan Sultan Agung untuk konsulidasi yang bercorak cultural yang secara langsung bertujuan sebagai alat pembangunan politik.
Menurut penelitian para sejarawan, bahasa Jawa sudah ada sebelum Kerajaan Mataram berdiri, bahkan diperkirakan telah ada dan berkembang pada tahun 1400. Terbukti pada Prasasti-prasasti yang ditemukan oleh para arkeolog ( pada masa Kerajaan Majapahit, Singosari dll ). Menarik untuk dibahas, apakah bahasa jawa pada masa tahun1400 tersebut sama dengan masa Kerajaan Mataram, ternyata pada masa tersebut bahasa jawa yang digunakan sedikit berbeda, walaupun ada kesamaan dengan masa Mataram, dan para sejarahwan menamai Bahasa Jawa Kuno.
 Perbedaan yang nyata antara Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Jawa masa Sultan Agung adalah adanya Tataran Ngoko – Kromo, Sultan Agung telah menciptakan inovasi bahasa jawa kuno, menjadi bahasa jawa versi Sultan Agung, dan ternyata Bahasa Jawa hasil Cipta, Rasa, Karsa dan Karya Sultan Agung tersebut sampai kini masih lestari. Kini tugas kita sebagai generasi penerus yang lahir di bumi Mataram ini yang wajib melestarikan, menjaga, serta mengimplementasikan dalam pergaulan dan kehidupan kita sehari-hari, jangan sampai bahasa jawa warisan leluhur kita hilang tertelan jaman.

BAB II
LATAR BELAKANG

Suatu istilah mengatakan bahwa bahasa adalah busana bangsa. Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan bahwa bahasa mencerminkan masyarakat yang memakai bahasa itu. Oleh karena itu dapat dikatakan juga bahwa perkembangan masyarakat, yang ditandai oleh terjadinya perubahan – perubahan sosial, mempengaruhi perkembangan bahasa.
Ambil contoh pda zaman penjajahan Belanda. Orang yang ingin dihormati harus dapat berbahasa Belanda. Sebaliknya bahasa Belanda  Menjadi bahasa resmi. Bagaimana pada zaman pendudukan Jepang? Hampir sama, orang Indonesia mempelajari bahasa Jepang, karena bahasa Jepang adalah bahasa resmi, bahkan orang Indonesia mempelajari tulisan Jepang juga.
Bagaimana halnya dengan kasus perkembangan bahasa Jawa ? Seperti sudah disebut di bagian depan, sebelum tahun 1600, lebih tegas lagi  sebelum tahun 1500, bahasa Jawa tidak mengenal unggah-ungguhing basa. Perkembangan baru terjadi pada  tahun1600, setelah melalui masa persiapan atau peralihan dalam abad XVI. Perkembangan bahasa Jawa sesudah tahun 1600 yang mengenal tataran ngoko-krama itu pasti ada latar belakangnya, pasti ada factor-faktor yang membuat terjadinya perkembangan yang demikian itu. Persoalan tentulah apa latar belakangnya munculnya unggah-ungguhing basa ? Kalau itu perubahan social, perubahan sosila yang bagaimana itu?
Seperti kita ketahui bahwa masyarakat Jawa Kuna, sangat terpengaruh oleh kebudayaan Hindu, termasuk bahasanya. Pada saat itu bahasa Jawa yang digunakan belum mengenal tataran ngoko-krama, percakapan pada saat itu, hanya menggunakan satu bahasa yang sama. Walau sebenarnya pada masa Jawa Kuno tersebut masih dijumpai kata-kata penghormatan, dan biasanyan digunakan untuk menghargai orang yang lebih tinggi status sosialnya. Bahasa Jawa Kuno terus berkembang seiring pula perkembangan zaman. Yang menarik adalah setelah Sultan Agung merevolusi Bahasa Jawa Kuno dan berkembang terus hingga masa penjajahan dan masa  kemerdekaan hingga kini, Bahasa Jawa mengalami perkembangan yang fluktuatif,  dan akhirnya kini perkembangan Bahasa Jawa pada taraf yang memprihatinkan. Seolah sekarang Bahasa Jawa kembali menjadi Bahasa Jawa Kuno yang tanpa menggunakan unggah-ungguh.


BAB III
PEMBAHASAN

1.    Perkembangan Bahasa Jawa Dinasti Mataram dan Setelah Dinasti Mataram

Dalam abad XVI  perkembangan kerajaan Islam di Jawa mulai nampak, seperti Demak dan Pajang, akan tetapi kerajaan tersebut tidak bertahan lama, kemudian status mereka pada abad XVII berubah menjadi Kabupaten dibawah kuasa Mataram. Oleh karena itu Pajang dan Demak tidak banyak meninggalkan banyak sumbangan dalam perkembangan budaya, khususnya yang berupa karya sastra. Tidak juga kita temukan kebudayaan kraton ataupun babad, karena itu kita tidak menemukan zaman kesusastraan Demak atau Pajang, meskipun ada zaman kesusastraan Islam. Walaupun demikian bukanlah berarti kita dapat menyimpulkan bahwa pada zaman Demak atau Pajang tidak ada kebudayaan kraton. Kebudayaan Demak dan Panjang lebih dulu maju daripada Mataram, karena pada waktu itu Demak dan Panjang, keadaan Mataram masih berwujud hutan. Barulah setelah setelah dibuka oleh Ki Ageng Pemanahaan, Mataram berkembang menjadi Negara. Oleh karena itu pada awal  pengembangan Mataram, Demak menjadi modelnya. Kemudian mengembangkam kebudayaan sesuai dengan kepentingan Politik Mataram. Sedangkan dalam masa Demak dan Panjang kita tidak mengetahui, kedua kerajaan ini memanfaatkan satra dan bahasa untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Hal ini berbeda sekali dengan Mataram, ada beberapa sarjana telah menunjukan bahwa sastra babad telah dipakai oleh Mataram untuk maksud-maksud legitimasi. Misalnya  Supomo Surjohudojo, menerangkan bahwa satra babad ditulis untuk melayakkan dan berhakkan kedudukan Raja yang memerintah.
Disamping itu hal yang menarik untuk dicatat ialah, masa perkembangan sastra babad yang bersamaan waktunya dengan berkembangnya unggah-ungguhing basa. Menurut pengertian Berg, Supomo Surjohudojo dan A.H. Johns, menjadi suatu kebetulan bahwa unggah-unggahing basa pun merupakan alat politik. Dalam hal ini pasti besarlah peranan para pujangga kraton sebagai penulis babad. Sebagai pengarang, pujangga kraton tidak hanya memanfaatkan karya sastra yang ditulisnya untuk memuliakan raja yang memerintah dalam bahasa yang biasa dipakai untuk umum ( karena tidak mengenal tataran basa ), tetapi dapat juga memuliakan raja dengan bahasa yang khusus bagi kalangan atas.
Jadi para pujangga kraton pada zaman Mataram bertugas menulis babad, tidak hanya menggunakan kata-kata penghormatan untuk mereka yang termasuk kalangan atas, akan tetapi mengunakan bahasa yang khusus untuk kalangan atas.
Penggunaan kata-kata Jawa kuno atau asing, supaya meninggikan prestise pujangga, ikut membantu pengembangan ngoko-krama juga, karena kata-kata Jawa Baru yang dipakai sehari-hari oleh dan untuk semua orang dipandang tidak atau kurang hormat untuk mereka yang dari kalangan atas. Banyak sarjana meneliti dan berkesimpulan bahwa perkembangan babad berkisar pada abad XVII, Sultan Agung sebagai penguasa pada saat itu telah menjadikan babad berkembang. Raja Mataram terbesar itu telah berhasil menjadikan bahasa dan budaya sebagai alat mencapai kejayaan politiknya.
Karena itu Sultan Agung mengembangkan sejumlah besar unsur baru dalam kebudayaan. Diantara unsur-unsur budaya yang dikembangkan adalah pembuatan tarih baru, yaitu tarih Jawa, pembaharuan perayaan Garebeg, penabuhan Gamelan Sekaten, penciptaan tradisi kraton yang baru, dan yang lebih penting bagi kita, adalah perkembangngan sastra dan bahasa. Sultan Agung sangat mempunyai ketertarikan khusus pada dunia sastra dan bahasa, ini bisa dibuktikan bahwa Sultan agung memerintahkan penulisan Babad Tanah Djawi.
Setelah Sultan Agung wafat perkembangan bahasa Jawa terus berkembang, dan mulai redup perkembangannya setelah kolonial Belanda memecah belah Mataram menjadi dua pada tahun 1755, mulai Perjanjian Gianti yang memecah Mataram menjadi Kerajaan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Sejak balatentara Sultan Agung dipukul VOC di Batavia tahun 1629, lambat laun VOC atau Kolonial Belanda Menguasai Mataram, ditambah lagi pemberontak-pemberotakan yang merong-rong Mataram dengan bantuan Kolonial Belanda. Pada jaman penjajahan Belanda, peperangan relatif tidak ada karena para penguasa Jawa telah mengakui kedaulatan Belanda atas mereka dan Belanda menjamin keberlanjutan tahta mereka. Boleh dikatakan, kekuasaan politik raja-raja Jawa menjadi hilang, tetapi kekuasaan budaya mereka justru semakin kuat. Dengan tidak adanya kewibawaan politik, kewibawaan dibangun melalui jalur budaya. Inilah, misalnya, yang dilakukan oleh Pakubuwono X (Lihat Kuntowijoyo, 2004). Pakubuwono semakin mengembangkan simbol-simbol dan memelihara mitos-mitos, misalnya tentang grebeg mulud, penyucian jimat-jimat keraton yang keramat, dll. (36-37).

Di antara simbol-simbol dan mitos-mitos tersebut, tentu saja adalah wayang kulit. Wayang kulit dijadikan seni “adi luhung” karena dari situlah pranata masyarakat Jawa dibangun, melalui cerita dan bahasa.
Sejak masa pra-kolonial, lebih dari sekedar alat komunikasi, bahasa Jawa sudah menjadi bagian dari ritual kepercayaan, kenegaraan, dan kebudayaan. Namun di masa kolonial sekali pun, bahasa Jawa masih merupakan bagian dari ritual-ritual yang sama, meski pun oleh sebuah tatanan masyarakat yang terjajah. Jadi peranan bahasa pada masa Kolonial Belanda  hanya sebagai simbol-simbol kekuasaan raja, sedangkan kekuasaan politik raja-raja terbelenggu oleh Kolonial Belanda.

2.    Tantangan Bahasa Jawa di masa kini

Pada dasarnya posisi bahasa Jawa sebagai bahasa yang mencerminkan feodalisme Jawa semakin diperuncing dan dipertahankan oleh sistem Kolonial Belanda. Pemerintah Kolonial Belanda memahami bahwa model kuasa dan jaringan sosial Jawa masih mempergunakan simbol-simbol kebahasan sebagai medium komunikasi searah dari atas ke bawah. Penguasa baru tersebut hanya sekedar meneruskan apa yang sudah terjadi. Demi kebutuhan rust en orde yang senantiasa menjadi ideologi tindakan penguasa Belanda, maka Pemerintah Kolonial Belanda mempertajam kembali relasi penguasa kraton dan bangsawan di satu sisi dengan rakyat sebagai bawahan di sisi yang lainnya.
Terdapat suatu perkembangan menarik pada masa pergerakan nasional. Bahasa Jawa yang semula menjadi bahasa terpenting pada pergaulan sosial dan intelek di kalangan pelajar pribumi, pada akhirnya harus menepikan egoisme sendiri. Bahasa Jawa sedikit dan perlahan mulai tidak dipergunakan sebagai sarana komunikasi organisasi pergerakan nasional. Proses kesadaran berbangsa dan semangat persatuan yang mulai menggejala pada awal abad 20 sebagai konsekuensi kebijakan politik etis akhirnya memakan tumbal bagi pemerintah Kolonial Belanda sendiri. Generasi muda sebagai hasil politik etis memberikan kontraproduktif bagi maksud ekonomi dan politis Belanda. Anak muda masa kini mulai memunculkan semangat nasionalisme berkat wawasan dan pengetahuan yang ditransformasikan melalui sistem pendidikan kolonial.


Di sisi lain, lahirnya kesadaran masa lalu sebagai bangsa yang pernah memiliki kejayaan yang terwujud melalui kebesaran kerajaan Sriwijaya dan Majapahit memupuk kelahiran jaman baru. Para pemuda menyusun kekuatan untuk melawan keberadaan penguasa asing yang dianggapnya kurang memberikan persamaan hak bagi rakyat yang dijajahnya. Bentuk perlawanan tidak lagi mempergunakan kekuatan fisik dan senjata. Organisasi-organisasi sosial politik mulai berdiri bak jamur di musim penghujan. Pada awalnya adalah Budi Utomo, lalu disusul oleh Indische Partij, Syarikat Islam, Perhimpunan Indonesia, PKI, PNI, Muhammadiyah, GAPI, dan sebagainya yang menyoal kesadaran nasionalisme. Puncak dari gerakan para pemuda adalah Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, di mana meneguhkan tentang eksistensi bangsa, tanah air, dan berbahasa Indonesia.  Konsekuensinya adalah hilangnya semangat kedaerahan dan penggunaan bahasa Jawa dalam forum organisasi. 
Pada masa pendudukan Jepang, posisi bahasa Jawa masih tetap sama dengan masa Kolonial Belanda. Kebijakan pendudukan Jepang justru memperbolehkan penggunaan bahasa Indonesia yang harus berdampingan dengan bahasa Jepang sendiri. Dalam rapat-rapat resmi, Jepang memperbolehkan para elit politik seperti Soekarno, Hatta, Radjiman, Ahmad Subarjo, dan lainnya memakai bahasa Indonesia dalam kegiatan politiknya yang tentu saja dengan pengawasan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, hanya bahasa Indonesia yang menjadi sarana komunikasi resmi dan formal. Bahasa Indonesia semakin menggeser posisi bahasa lokal di masing-masing daerah karena semangat kenasionalan yang sengaja ditumbuhkan untuk merangkaikan perbedaan budaya, suku bangsa, ras, dan bahasa yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia ini.
Bahasa Jawa menempati posisi kedua di wilayah pengguna bahasa Jawa sendiri. Namun, pada masyarakat pedesaan dalam lingkup pergaulan dan resmi masih tetap dipergunakan bahasa Jawa dengan ragam ngoko alus yang egaliter ataupun kromo lugu yang tidak terlalu berbelit dan sulit pemakaiannya. Apalagi pada masyarakat perkotaan dan pesisiran, bahasa Jawa ngoko kasar dan alus tetap dipergunakan dengan memandang usia dan bentuk pergaulannya.
Pada awal kemerdekaan memang masyarakat Jawa sendiri mempunyai kebanggaan jika menggunakan bahasa Indonesia. Maklum saja bahwa situasi pasca kemerdekaan menuntut hadirnya semangat kebangsaan yang besar. Semangat itu dapat dikembangkan kembali ketika masyarakat Jawa memakai bahasa baru yang memberikan kesadaran berbangsa.

Di samping itu, aspek pendidikan pada pemerintahan yang baru mempunyai kebijakan yang secara politis merugikan kepentingan perkembangan bahasa Jawa. Mengapa? Hal ini bisa kita lihat bahwa selama Masa Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin, dan Orde Baru, bahasa Jawa tidak memberikan ruang pengembangan bahasa Jawa yang sepadan dengan ilmu lain dari tingkat dasar sampai lanjut. Kurikulum Sekolah Menengah Atas tidak mengijinkan bahasa Jawa diajarkan pada anak didik. Pada level perguruan tinggi, bahasa Jawa sama sekali tidak mendapatkan tempat. Bahasa Jawa dianggap sebagai selingan budaya yang diberikan pada kegiatan ekstrakurikuler mendampingi seni tari, karawitan, gamelan, dan pranata cara semata tanpa berusaha mengeksplorasi aspek keilmuan yang substantif.
Sekolah Menengah Atas pun pada praktiknya lebih nyaman ketika memberikan tambahan pelajaran asing seperti Perancis, Jerman, Jepang, dan Arab daripada bahasa Jawa yang dianggapnya kurang adaptif terhadap perkembangan jaman. Berdasarkan data Unesco bahwa setiap tahun terdapat 10 bahasa ibu yang mengalami fosilisasi, maka kita turut mengelus dada. Bahasa ibu di dunia ini secara cepat mengalami kepunahan yang disebabkan pengaruh globalisasi dan kapitalisme. Bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa ibu yang terbesar di nusantara sedikit banyak tergeser pada kepentingan globalisasi dan kapitalisme tersebut. Cepat atau lambat bahasa Jawa akan masuk dalam ranah masa lampau yang mungkin tak akan dilirik lagi oleh masyarakat pendukungnya.
Bahasa Jawa mau tidak mau tenggelam dalam ketidakpekaan terhadap semangat perubahan yang melanda negara-negara dunia ketiga. Masyarakat pendukung kebudayaan Jawa yang seharusnya memakai bahasa ini sebagai medium berekspresi justru bersemangat untuk meninggalkannya. Orang Jawa yang berasal dari kalangan terdidik dan menempati kelas menengah masyarakat Indonesia lebih condong mempergunakan bahasa Inggris dan Indonesia. Mereka membiasakan anak-anak mereka dengan bahasa Inggris dan Indonesia yang lebih fleksibel, prestise, dan sesuai dengan spirit kemajuan.
Inilah realita sekarang bahasa Jawa seolah menunggu waktu untuk punah, butuh sebuah perjuangan yang berat untuk tetap bisa menjaga keberadaan dan kelestarian bahasa Jawa. Pemerintah dan masyarakat harus saling bahu-membahu untuk menjaga kelestarian bahasa Jawa. Memang kita tidak boleh saling menyalahkan, sebagai orang Jawa minimal kita secara pribadi, harus mau melestarikan dan menggunakan bahasa Jawa.

BAB IV
PENUTUP

I.    KESIMPULAN
Setelah melihat kenyataan sekarang , kita mungkin pesimis dengan gerusan bahasa asing dan budaya luar yang bertubi memasuki kancah lalu lintas komunikasi lokal dan apalagi nasional. Bahasa  Jawa mau tidak mau akan mengalami nasib yang sama dengan suku-suku lain yang ada di dunia ketika masyarakat pendukung budayanya mulai meninggalkan bahasa ini begitu saja. Dalam rentang historis, bahasa Jawa mengalami proses dinamikanisasi. Artinya ada saatnya bahasa Jawa menjadi sesuatu yang mutlak dan dibutuhkan untuk sarana legitimasi sosial politik, namun di sisi lain ada saatnya bahasa Jawa mengalami keruntuhan karena sudah dianggap tidak sesuai dengan perkembangan globalisasi.
Untuk itu mengembalikan bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan dan tetap eksis mutlak dibutuhkan perjuangan yang amat berat, perlu semua elemen bangsa untuk melakukannya agar bahasa Jawa tidak mengalami fosilisasi dan dapat kembali dipergunakan sebagai bahasa pergaulan dan komunikasi umumnya pada lingkup yang terbatas.
Banyak cara dan strategi untuk tetap bisa menjadikan bahasa Jawa tidak mengalami kepunahan, strategi tersebut antara lain :
1.    Ajarkan bahasa Jawa tentu dengan unggah-ungguhnya dari diri kita dan keluarga kita.
2.    Batasi penggunaan bahasa Indonesia/Inggris pada lingkup keluarga kita.
3.    Pemerintah harus memberikan porsi mata pelajaran Bahasa Jawa yang seimbang dengan pelajaran yang lain sekolah-sekolah dari tingkat TK, SD, SMP dan SLTA.
4.    Di tingkat Perguruan tinggi, Dikti atau Kopertis menganjurkan kepada Universitas-universitas untuk membuka Fakultas/Prodi Bahasa Jawa, sehingga ke depan SDM Intelektual bahasa Jawa tetap masih ada.

Sebenarnya masih banyak strategi-strategi untuk bisa menjadikan bahasa Jawa tetap lestari, kita bisa mengambil contoh Negara Jepang, Bahasa dan budaya Jepang disana sangat dijunjung tinggi, sehingga walaupun Negara Jepang sebuah Negara maju dengan peradaban yang modern, akan tetapi tidak akan lupa akan budaya dan bahasa mereka.


DAFTAR PUSTAKA
  • Bahasa & Kekuasaan.......Latif, Yudi &Ibrahim ( Mizan )
  • Sejarah Nasional Indonesia IV.......Nugroho Notosusanto ( Balai Pustaka )
  • Konsep Kekuasaan Jawa........Drs. G.Moedjanto ( Kanisius )







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar